Game Theory dalam Pemasaran

Reading Time: 4 minutes

Kenapa lokasi fastfood KFC dan McDonald’s sering bersebelahan di Bali, dan kenapa toko-toko ritel waralaba tidak lebih dari 1 kilometer jaraknya satu sama lain? Ini adalah perspektif dari sisi pemasaran dan ingat bahwa tidak berarti mutlak benar bahwa teori ini adalah terapannya (baca: Disclaimer).

Jaman dahulu game theory (teori permainan) secara tradisional telah digunakan untuk menyusun strategi militer (Siiman & Cruz, 1975, Bacharach, 1977). Teori permainan sampai saat ini masih digunakan terutama dalam ekonomi, bisnis, politik dan psikologi. Kotler dan Singh (1981) memperhatikan bahwa persaingan di pasar, entah bagaimana, mirip dengan persaingan di medan perang.

Pertama kali diresmikan oleh John Von Neuman dan Oskar Morgastern pada tahun 1944, para peneliti sejak itu memperdebatkan apakah teori permainan dapat memecahkan masalah pemasaran, khususnya sebagai alat untuk memprediksi perilaku kompetitif. Melalui pengambilan keputusan strategis berdasarkan analisis tentang bagaimana orang lain bermain, Anda dapat mulai memaksimalkan peluang kesuksesan Anda.

 

Tujuan

Game theory adalah sebuah alat analitis yang dirancang untuk membantu kita memahami fenomena yang kita amati ketika pengambil keputusan berinteraksi. (A. Rubinstein, 1994).

Teori permainan meningkatkan pengambilan keputusan strategis dengan memberikan wawasan berharga ke dalam interaksi berbagai pihak yang memiliki kepentingan pribadi dan karenanya game theory semakin banyak digunakan dalam bisnis dan ekonomi. (Erhun, 2003)

Tujuan dari game theory menurut Shubik (1972) adalah untuk: “Menyajikan bahasa formal untuk menggambarkan proses pengambilan keputusan dengan sadar dan berorientasi pada tujuan yang melibatkan satu atau lebih pemain.”

 

Komponen

Game: setiap keadaan yang hasilnya tergantung pada tindakan dua atau lebih pembuat keputusan.

Pemain: Pengambil keputusan strategic yang rasional dan terlibat di dalam permainan.

Strategy: Rencana & keputusan dari pemain-pemain yang tunduk pada peraturan yang di dalam permainan.

Outcome: Hasil yang diperoleh dari keputusan.

Kumpulan informasi: informasi yang tersedia pada dalam permainan.

Equilibrium: Keseimbangan yang paling optimal dimana pemain tidak bisa lagi mengubah posisinya.

 



 

Hotelling’s Model

Menurut Harold Hotelling (1929) ‘Lokasi yang paling menguntungkan adalah di sebelah pesaing, di tengah ruang geografis atau produk.’

Contoh usaha yang menggunakan strategi Hotelling’s Law di Indonesia: Alfamart vs Indomart, McDonald vs KFC, Starbucks vs JCo, Toko-toko Elektronik dan Toko-toko Perhiasan Emas.

 

Berikut adalah video dari Jac de Haan dan Luke Rowsell yang memvisualisasikan penerapan Hotelling’s Model:

 

Source: https://ed.ted.com/lessons/why-do-competitors-open-their-stores-next-to-one-another-jac-de-haan

 

Nash Equilibrium

Pada 1994 Hadiah Nobel dalam bidang Ekonomi mengakui karya tiga ilmuan dalam memajukan pemahaman tentang bagaimana teori permainan berlaku untuk beberapa jenis situasi ekonomi atau sosial tertentu. Salah satunya jatuh kepada seorang ahli matematika, John Nash yang memformalkan Nash Equilibrium. Kisah hidupnya menginspirasi ide cerita dari film berjudul A Beautiful Mind, 2001.

John Nash mengembangkan definisi strategi “optimal” untuk permainan multi-pemain di mana sebelumnya tidak ada yang optimal seperti yang didefinisikan, yang dikenal sebagai Keseimbangan Nash (Nash Equilibrium). Keseimbangan ini cukup umum, memungkinkan untuk analisis permainan non-kooperatif selain yang kooperatif.

Dalam teorinya, seperangkat strategi akan menjadi Nash Equilibrium jika masing-masing pemain mewakili respons terbaik terhadap strategi lainnya. Jadi, jika semua pemain memainkan strategi dalam keseimbangan Nash, mereka tidak memiliki insentif untuk menyimpang, karena strategi mereka adalah yang terbaik yang bisa mereka lakukan mengingat apa yang dilakukan orang lain.

 

Penutup

Jika di pelajari lebih dalam, Game Theory lebih seperti pendekatan rasional & matematis untuk mencapai keseimbangan dari pemain-pemain yang terlibat didalamnya. Pada dunia nyata, keseimbangan mutlak dalam ekonomi dan bisnis adalah sesuatu yang utopis.

Masalah lain dari teori ini adalah asumsi bahwa setap pemain adalah pengambil keputusan yang rasional, mementingkan diri sendiri dan fokus untuk memaksimalkan utilitas. Sedangkan pada kenyataannya, manusia memiliki banyak motif dalam menjalankan kegiatan usahanya. Namun sebagai satu perangkat analitik, penggunaan teori permainan bersama dengan alat-alat lain, ditambah pengalaman bisnis seorang pemasar dapat secara signifikan meningkatkan pemahaman tentang dinamika dalam interaksi bisnis yang mengarah pada kualitas yang lebih tinggi dalam pengambilan keputusan berdasarkan informasi-informasi yang tersedia.
 



 

References
D.B. Ridley. 2013. Hotelling’s Law.
Dominici. 2011. "Game Theory as a Marketing Tool: Uses and Limitations." Elixir Journal (online).
E, Feryal & K, Pinar. 2003. Game Theory in Business Applications.
[4] http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Game_theory

DMCA.com Protection Status

Keep this for yourself or share it: