5 dari 9 Poin Psikologi Digital dan Prakteknya Dalam Pemasaran Online

Reading Time: 2 minutes

Jika cabang-cabang ilmu yang menjadi penunjang pemasaran dikumpulkan, mungkin ini salah satu yang paling menarik. Psikologi dalam pemasaran. Untuk  yang memang belajar secara formal maka akan mengenal perilaku konsumen. Namun bagaimana saat ini membaca perilaku konsumen di era digital?

Saya menemukan satu situs yang merangkum 9 poin psikologi digital, situs yang digagas Daniel Stefanovic ini memberikan penjelasan yang empiris tentang psikologi digital yang dapat meningkatkan user experience. Berikut ini 5 dari 9 poin tersebut:

 

1. Anchoring

Manusia cenderung terlalu bergantung pada satu informasi, biasanya yang pertama didapatkan, ketika membuat keputusan atau memperkirakan nilai objek yang tidak pasti. Nilai awal inilah yang digunakan sebagai titik rujukan,  yang mungkin memengaruhi pilihan orang tersebut. Hal ini termasuk dalam bias kognitif. Dalam prakteknya hal ini dapat ditemukan dalam high-low pricing strategy

 

2. Komitmen dan Konsistensi

Kita terdorong untuk konsisten dalam semua bidang kehidupan. Ketika membuat janji, kita merasa berkewajiban untuk memenuhinya. Ketika kita membuat sebuah keputusan, memiliki pendapat, atau bertindak dengan cara tertentu, kita berusaha untuk membuat semua perilaku di masa yang akan datang cocok dengan tindakan dan keputusan di masa lalu. Kita cenderung membenarkan komitmen ini dengan mencari konfirmasi dan memberikan alasan untuk mendukungnya. Dalam prakteknya hal ini dapat ditemukan dalam bentuk fitur whist lists.

 

3. Loss Aversion

Merupakan kecenderungan untuk lebih memilih menghindari kerugian daripada memeroleh keuntungan yang setara: lebih baik tidak kehilangan Rp 50.000 daripada menemukan Rp 50.000. Dengan kata lain, lebih menyakitkan kehilangan sesuatu daripada mendapatkan hal yang sama. Dalam prakteknya hal ini dapat ditemukan dalam bentuk penawaran terbatas.

 

4. Kebutuhan akan Penyelesaian

Kita sebagai manusia, tidak ingin meninggalkan hal-hal yang tidak lengkap. Kita termotivasi untuk menyelesaikan serangkaian tugas, bahkan tanpa imbalan lebih lanjut selain kepuasan menyelesaikannya. Dalam prakteknya ini bisa berwujud progress bar: ketika kita menonton video secara online, maka kita dapat melihat sudah sampai mana video tersebut berjalan dan kapan video itu akan selesai pada sebuah bar yang biasanya terletak dibawah video container.

 

5. Reciprocity

Timbal balik merupakan karakteristik kita sebagai manusia yang memungkinkan kita hidup bermasyarakat. Merasakan suatu kewajiban untuk membalas bantuan yang telah dilakukan oleh orang-orang baik yang dikenal maupun orang asing. Dalam dunia digital kita bisa melihat hal seperti pemberian rating oleh pengguna app.

 

 

Sumber:
https://digitalpsychology.io/
Photo by Alex Grodkiewicz on Unsplash
Keep this for yourself or share it: